Happy Wedding!
Teriakan sanak saudara, rekan dan handaitulan mengiringi pemberangkatan sepasang pengantin yang baru saja diakad pada pukul sembilan pagi. Mereka langsung bergegas menuju hotel tempat untuk berbulan madu. Perjalanan sekitar 3 jam dari gedung pernikahan.
Terbayang di benak Lili malam-malam indah yang akan dihabiskan bersama dengan suaminya. Walaupun pernikahan mereka hasil perjodohan kedua orang tua, tapi Lili telah menerima Jami sebagai suaminya.
Sekitar pukul empat sore mereka tiba di lorong hotel. Bunga Anggrek menjadi penghias utama hotel. Anehnya tidak ada tanaman anggrek asli disana, semuanya plastik.
Lili berjalan ke tempat resepsionis untuk meng-claim pemesanan hotel. Mengahabiskan bulan madu di hotel ini bukanlah kemauan Lili, semua ini adalah ide dari Jami, suaminya mengatakan bahwa ada seorang teman yang telah mem-booking hotel sebagai hadiah pernikahan mereka. Mau tidak mau Lili patuh. Kamar mereka berada di lantai 2 pintu nomor 7B.
Di dalam kamar itu keduanya terlihat saling sungkan, mungkin karena hasil perjodohan. Hari sudah mulai gelap, matahari merangkak ke ufuk barat. Lili bermaksud mengajak suaminya sholat berjamaah.
“Kamu duluan saja, aku mau turun beli pengganjel perut.” Tolak Jami dengan suara lembut. Tanpa basa-basi lagi dia langsung keluar kamar setelah mengambil dompet hitam di dalam koper.
Lili mendengus kecewa. Ia berjalan kearah jendela kaca yang terhampar tepat di kamarnya, ia singkap gorden keemasan yang menutupi pemandangan kota. Indah sekali, kilau senja masih terlukis rapi, dengan pemandangan seperti ini ia memberi nilai positif pada hotel ini. Segera ia ambil HP dan mulai searching tengtang hotel yang sedang ia tempati.
Seketika tangannya bergetar melihat beberapa review yang muncul di pencarian layar HP-nya.
Hotel Anggrek Tempat yang Bagus untuk Memutuskan Hubungan
Hotel Anggrek dan Hantu Perawan
Begitu thumbnail yang ia baca, nuansa horror mengepung pikirannya. Yang membuatnya tersendak adalah “Hantu Perjaka di Kamar 7B” begitu review yang tertera di artikel pencarian paling bawah. Lili mengatur nafasnya, ia menatap setiap inci kamar tidak ada yang aneh, dia tidak takut pada penampakan hantu. Dia realistis dan selalu bersikap tenang.
Lili menetralkan perasaannya dengan berdzikir. Ia putuskan untuk solat maghrib yang hampir terlewat. Ia berjalan kamar mandi, sedikit mulas ia beralih pada closet monoblok dan menyingkap tutupnya, betapa kagetnya ia ketika mendapati air closet berwarna merah darah. Reflek ia menjerit tangannya gemetar.
Lili meraih handphone untuk menghubungi suaminya. Yang ia dapati hanya panggilan yang ditolak. Ia segera mengirimi pesan whatsapp.
Sayang, tempat ini aneh, ayo kita pergi dari sini.
Tulisnya pada pesan whatsapp, terlihat status online pada akun suaminya. Lili langsung memencet tombol video call namun lagi-lagi ditolak.
Lili memutuskan untuk keluar menyusul suaminya. Ketika ia mencoba membuka gagang pintu, pintu itu terkunci. Lili berpikir, apa mungkin suaminya menguncinya di dalam kamar aneh ini? Lili menyerah dengan pintu, ia duduk meringkuk menutupi dirinya dengan selimut. Ia buka kembali handphonenya, dalam kepalanya muncul beberapa tanya. Siapa yang menghadiahi hotel ini kepada suaminya? Mengapa suaminya mengunci dirinya di dalam kamar horror ini?
Tanya yang belum terpecahkan. Lamunan Lili dipecahkan oleh ketukan pintu, ia intip orang di luar sana dari lubang kecil pintu, terdapat seorang food production membawa beberapa bungkus makanan. beberapa kali orang itu mengetuk tapi Lili tidak bisa membuka pintunya, Lili mengirim sobekan kertas bertuliskan
Aku kehilangan kunci. Bisakah kamu membantuku mendapatkan kunci cadangan?
Pelayan itu langsung mengeluarkan kunci serep dari sakunya, seperti sudah direncanakan. Ia berhasil membuka pintu kamar Lili. Ia masuk dengan tenang untuk meletakkan makanan. Beberapa detik kemudian pelayan itu mengunci pintu dan mengeluarkan sebilah pisau dan menyodorkan pada Lili.
Lili terdiam di tempat. Ia semakin tidak paham pada rentetan kejadian aneh yang dia alami sejak menginjak kaki di hotel. Lili berjalan mundur seiring dekatnya ujung pisau dengan hidungnya. Ia terpojok dan terduduk di kasur. Pelayan itu tak berkata apapun, ia hanya menyodorkan pisau.
“Kamu butuh apa? Saya berikan semua uang saya, lepaskan saya!” Lili mencoba bernegosiasi, pelayan itu bergeming.
Suara pintu hendak dibuka dari luar. Besar harapan Lili yang datang adalah Jami, belum sempat Lili melihat siapa yang datang, pelayan itu melompat ke arah Lili dan membuat posisi seolah mereka sedang bermain gila. Pisau milik pelayan itu masuk ke saku celananya.
Benar, Jami muncul dari balik pintu. Dengan wajah marah Jami menyingkirkan pelayan itu dan memukulnya dengan keras. Lili menjerit ketakutan dalam benaknya ia takut Jami akan terkena tikam.
“Siapa kamu?!” teriak Jami di depan wajah lelaki itu.
“Aku menyukai Lili sejak lama, dan sekarang kita akan bersatu sebaiknya kamu pergi!” jawab pelayan itu.
Jawaban yang benar-benar di luar nalar Lili. Ia bahkan tidak kenal dengan laki-laki ini.
“Jadi ini semua sengaja? Kamu selingkuh?!” perhatian Jami beralih pada Lili. Sorot matanya lebih tajam menatap Lili dari pada pelayan itu.
“Mas, dia menyodorkan pisau ke aku. Dia mau melukai aku, Mas!” dengan susah payah Lili menjelaskan namun Jami sama sekali tidak mendengarkan, suaminya itu termakan ucapan pelayan tadi. Pelayan itu dengan santai keluar kamar. Sementara Jami benar-benar terlihat marah pada Lili.
“Mulai malam ini saya ceraikan kamu!” ujar Jami lalu pergi begitu saja.
Lili terduduk pasrah. Apa yang baru saja terjadi menjadi hal yang tidak masuk akal baginya. Beberapa jam yang lalu mereka di akad dalam pernikahan sakral, sekarang, bahkan belum lewat satu hari Lili telah berstatus janda.
Satu bulan berlalu. Lili kembali mendatangi hotel Anggrek seorang diri, sama dengan sebelumnya ia memesan kamar 7B. Ia kembali ke kamar itu dengan kepiluan hati, bedanya kini dia lebih tenang, hanya saja banyak tanya belum terpecahkan. Dia merenung sambil menatap sunset lewat jendela, notifikasi instagram muncul di layar HP-nya, notifikasi itu menginfokan satu postingan instagram dari akun jami_jami77 mantan suaminya. Dibukanya tautan tersebut menampilkan potret Jami bersama wanita lain. Ia tahu Jami sudah memiliki kekasih baru, baru hari ini Jami mempublikasi gadis pilihannya.
Lili melihat profil gadis Jami tag. Dia melihat seluruh postingan gadis itu. Hingga ia jumpai sebuah foto dengan latar yang sangat Familiar yaitu di depan resepsionis Hotel Anggrek. Foto itu memamerkan gadis itu dengan 4 pria, diantaranya adalah Jami yang merangkul gadis itu dan di samping Jami ada lelaki yang jelas-jelas tidak pernah Lili lupakan, si pelayan yang telah menjebaknya. Dia adalah teman Jami dan gadis yang kini bersama Jami.
#CerpenMisteriRamadan